Pemecahan Masalah dan Kreativitas
Oleh: Kadir dan Asep Ikin Sugandi
Dari Buku “COGNITION” karangan Margareth W. Matlin.
A. PENDAHULUAN
Setiap hari kita berhadapan dengan masalah, seperti memikirkan masalah yang telah lewat, tidak punya pena untuk menulis pesan, tidak punya pulsa untuk menjawab SMS, beasiswa yang telat, soal ujian sulit, labtop rusak, dan lain sebagainya. Untuk memecahkan masalah dibutuhkan banyak waktu dan tenaga, namun ketika masalah tersebut telah dapat dipecahkan kita harus beristrahat tengah malam, bermain kartu, nonton film, jalan-jalan, mengisi TTS, dan berbagai kegiatan lainnya untuk refreshing.
Untuk memecahkan masalah dibutuhkan berbagai cara yang tepat. Berbagai cara pemecahan tersebut digunakan para ilmuwan agar dapat mendesain, melakukan, dan mengiterpretasikan penelitian atau hasil penelitian. Pemecahan masalah digunakan bila kita ingin mencapai tujuan tertentu, namun solusinya tidak jelas. Jika solusinya jelas, maka tidak ada masalah. Sebagai upaya untuk mencapai tujuan dapat digunakan beberapa strategi berbeda (Dunbar, 1998; Simon, 1999).
Davidson dkk. (1994) menyatakan bahwa setiap masalah mempunyai tiga ciri: (1) kondisi awal (the initial state), (2) uraian tujuan (the goal state), dan (3) kendala-kendala (the obstacles). The initial state: kondisi awal masalah, misal: Saya berada di rumah yang lokasinya jauh dari kios penjual pulsa tanpa payung dan kendaraan. Uraian tujuan (the goal state): apa yang hendak dicapai ketika menyelesaikan masalah, misalnya: Saya hendak menjawab SMS. Kendala-kendala (the obstacles): keterbatasan yang membuat kita kesulitan memproses initial state ke goal state, misalnya: pulsa tidak ada dan sementara hujan.
Pemecah masalah jarang menggunakan cara acak, pendekatan try-and-error, dan mencoba berbagai cara secara membabi buta hingga mendapatkan solusi yang tepat; sebaliknya mereka secara khusus menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa (Hinrichs, 1992).
Ada beberapa sifat aktifitas proses kognitif dalam pemecahan masalah:
Jarang menggunakan cara acak, pendekatan try-and-error, cara yang membabi buta, tetapi menggunakan cara yang fleksibel
Menguraikan masalah ke dalam komponen masalah dan membuat rencana serta strategi untuk masing-masing komponen
Strategi tertentu digunakan agar diperoleh solusi yang relatif mudah diterapkan
Aspek yang jarang diperhatikan dalam pemecahan masalah adalah penemuan masalah. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa kiat dalam memecahkan masalah, yaitu:
Memahami masalah dengan baik
Memecahkan masalah, dengan memikirkan ruang lingkup permasalahan.
Memilih strategi yang dianggap paling tepat untuk memecahkannya.
Kreatifitas, yaitu: sesuatu yang memerlukan temuan-temuan baru dalam solusi yang juga baru dalam mengatasi masalah yang semakin rumit dan menantang.
B. MEMAHAMI MASALAHMemahami masalah artinya membuat representasi internal terhadap masalah. Langkah awal untuk memahami masalah adalah melakukan dua taha, yaitu: (1) Memberikan perhatian pada informasi yang relevan, mengabaikan hal-hal yang tidak relevan; dan (2) Memutuskan bagaimana merepresentasikan masalah.
1. Syarat-syarat untuk Memahami MasalahGreeno (1977, 1991) mengusulkan tiga syarat untuk memahami masalah, yaitu: koheren, korespondensi, dan hubungan dengan latar belakang pengetahuan. Representasi koheren berarti bahwa masalah merupakan pola yang terkait satu sama lain, sehingga semua bagian-bagian tertentu lainnyapun dapat memberi pengertian. Pemahaman memerlukan adanya hubungan dekat (korespondensi) antara representasi internal dengan materi yang dipahami. Ketika representasi internal tidak lengkap atau tidak akurat atau tidak berkaitan dengan materi yang dipahami, maka perlu memikirkan kejadian/peristiwa tertentu.
2. Memperhatikan Informasi Penting
Untuk memahami masalah kita harus mengambil keputusan yang mengandung informasi yang dianggap paling relevan dalam memecahkan masalah dan merupakan bagian dari solusi masalah. Hal ini perlu diperhatika karena pemecahan masalah adalah aktifitas kognitif yang kompleks yang bersandar pada aktivitas kognitif lain, seperti: perhatian, memory, dan pengambilan keputusan.
Perhatian penting dalam pemecahan masalah sebab perhatian terbatas dan terkadang bertentangan dengan pemikiran yang menyebabkan perhatian terbagi (Bruning dkk., 1999). Simon dan Hayes (1970) menyatakan, orang akan kembali membaca suatu masalah jika: (1) mereka yakin bahwa informasi dalam kalimat relevan dengan tugas; dan (2) mereka tidak menyimpan informasi dalam memori. Sementara itu, Mayer (1989) menyatakan bahwa masalah utama dalam memahami masalah adalah bagaimana memfokuskan pada bagian masalah yang sesuai.
3. Metode Penyajian MasalahSetelah pemecah masalah memutuskan informasi mana yang penting dan mengetahui mana yang dapat diabaikan, langkah berikutnya adalah bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyajikan masalah tersebut. Untuk menyajikan masalah yang abstrak dengan cara yang lebih konkrit yang hanya menunjukkan informasi penting dari masalah diperlukan beberapa metode: simbol, daftar, matriks,diagram, grafik, dan bayangan visual.
a. Simbol
Penyajian masalah dalam bentuk simbol banyak digunakan dalam matematika, misalnya menyelesaikan soal cerita matematika dengan menuliskan permasalahan dalam bentuk simbol-simbol matematika aljabar. Penggunaan simbol ini terkadang merupakan cara yang efektif untuk menyajikan masalah yang abstrak. Permasalahannya adalah terkadang pemecah masalah menyederhanakan kalimat sehingga salah dalam menyajikan informasi; orang membawa miskonsepsi ketika mulai memecahkan masalah (miskonsepsi mengganggu ketepatan menerjemahkan kata menjadi simbol).
b. DaftarDaftar dapat membantu menyajikan masalah yang berbeda dengan metode lainnya.
c. Matriks
Matriks dapat menunjukkan semua kombinasi yang mungkin, terutama bila masalahnya kompleks dan informasi yang dianggap relevan dapat dikelompokkan (Halpern, 1996).
d. DiagramDiagram membantu kita untuk menyajikan informasi yang lebih luas. Misalnya diagram pohon yang menggunakan struktur seperti pohon untuk mengkhususkan berbagai pilihan yang mungkin dalam suatu masalah. Diagram dapat menyajikan informasi dalam bentuk konkrit, terbebas dari ”mental space” dalam kerja memory untuk aktivitas pemecahan masalah lainnya (Wheatiey, 1997).
Novick dan koleganya (1999): setelah mahasiswa dilatih dengan matriks dan diagram, mereka dapat memilih metode yang paling sesuai dalam menyajikan berbagai masalah. Grafik adalah jenis diagram yang paling efektif dalam menyajikan informasi secara visual.
e. Bayangan visual (visual image)
Dapat memudahkan kita keluar dari batas-batas representasi tradisional. Pada saat yang sama, bayangan visual nampaknya lebih konkrit dan nyata adanya; sehingga berfungsi sebagai simbol untuk suatu kogniitif yang sebelumnya belum dibangun secara langsung. Keterampilan visual-imagery (perumpamaan visual) yang baik dapat memberikan manfaat apabila suatu masalah mengharuskan anda untuk mengkonstruksi sebuah gambar (Adeyemo, 1994). Beberapa representasi imagery kemungkinan lebih efektif dari yang lainnya (Adeyemo, 1990).
Mahasiswa yang diberi instruksi untuk menyusun bayangan lebih sukses dalam menyelesaikan masalah daripada mahasiswa yang diinstruksikan untuk membuat suatu bayangan dari sesuatu yang sudah dikenal.
4. Situated cognition: Pentingnya KonteksPara psikolog dan pendidik memberi penekanan pada situated cognition (perspektif situatif), suatu pendekatan yang meneliti bagaimana pemecah masalah bekerja dalam konteks lingkungan mereka (Lave, 1997; Seifert, 1999). Penelitian ini mendemonstrasikan bahwa orang awam menetapkan berbagai jenis buah zaitun yang dianggap lebih mudah dari yang ada di tokoh makanan, sekalipun mereka salah untuk memahami masalah yang sama pada tes matematika standar (Kirshner & Whitson, 1997a; Lave, 1988).
Untuk memahami masalah lebih cepat dan lengkap, maka kita perlu:
Mengumpulkan informasi yang bermanfaat dari simulus-rich setting kehidupan sehari-hari. (Agre, 1997).
Berinteraksi dengan orang lain yang menyediakan informasi dan membantu kita menjelaskan proses kognitif kita (Greeno dkk, 1998; Seifert, 1999).
Pendekatan kognitif tradisional untuk berpikir menekankan pada proses yang ada dalam benak setiap orang. Pendekatan situated-cognitive menjelaskan bahwa cara pendekatan kognitif tradisional tersebut terlalu sederhana, sebab dalam kehidupan sehari-hari, proses kognitif kita selalu memanfaatkan lingkungan yang banyak memberikan informasi, dilengkapi dengan interaksi sosial yang kompleks (Greeno dkk, 1998).
Untuk memahami proses kognitif secara lebih akurat, psikolog menekankan pada 2 hal, yaitu validitas ekologis dan konteks situasi yang spesifik. Perspektif situated-cognition konsisten dengan ide para psikolog untuk lebih menekankan pada validitas ekologis. Pada bab 1 dan pembahasan bab 4 telah dijelaskan tentang memori otobiografi yang terjadi secara alamiah sehingga hasil-hasilnya dapat dterapkan. Contoh, penelitian tentang kemampuan matematika anak dalam menjual permen mempunyai validitas ekologis yang lebih besar dibandingkan dengan kemampuan matematika mereka terhadap kertas, pensil, dan mengerjakan soal ujian standar. Selain validitas ekologis, perspektif situated-cognition juga mengandung prinsip bahwa orang mempelajari keterampilan dalam konteks situasi yang spesifik, misalnya tokoh makanan. Akibatnya, mereka salah mentransfer keterampilan dan menggunakannya secara efektif pada situasi yang lain, seperti tes matematika standar (Anderson, Reder, & Simon, 1996; Bereiter, 1997).
Rangkuman: Memahami Masalah
1. Menemukan masalah merupakan suatu komponen yang krusial dalam pekerjaan, tetapi, topik ini mendapat sedikit perhatian.
2. Untuk memahami masalah perlu mengkonstruksi suatu representasi internal dari masalah; representasi ini bersifat koheren, saling berkaitan antara representasi internal dan materi yang dipahami, dan hubungan yang sesuai dengan latar belakang pengetahuan pemecah masalah.
3. Perhatian relevan dengan pemecahan masalah, karena: perhatian adalah terbatas, pemikiran yang competing dapat menghasilkan perhatian yang terpecah, dan pemecah masalah harus memfokuskan perhatiannya pada bagian masalah yang tepat.
4. Metode untuk merepresentasikan masalah berupa simbol, daftar, matriks, diagram, grafik, dan bayangan visual.
5. Menurut pendekatan situated-cognition, kita harus menekankan konteks untuk memecahkan masalah; masyarakat memahami masalah dalam konteks kekayaan lingkungan, mengkombinasikannya dengan interaksi sosial yang kompleks
C. PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH
Setelah menyajikan masalah, gunakanlah berbagai strategi pemecahan. Beberapa strategi memerlukan waktu yang sangat lama. Pada bagian ini diperkenalkan dua pendekatan pemecahan masalah, yaitu algoritma dan heuristik.
1. AlgoritmaAlgoritma adalah metode yang dapat menghasilkan solusi, cepat atau lambat. Exhaustive search (penyelidikan mendalam) adalah salah satu contohnya; semua jawaban yang mungkin coba digunakan dari suatu sistem khusus. Algoritma sering tidak efisien dan sederhana. Dengan menggunakan algoritma yang tidak efisien, ujian kemungkinan akan terlewatkan sebelum satu masalah terpecahkan.
Dalam menggunakan algoritma ini terkadang cara yang digunakan dianggap sebagai metode yang lebih rumit sehingga dapat mengurangi kemungkinan-kemungkinan yang harus diselidiki/periksa untuk memperoleh solusi. Dengan cara seperti ini, solusi dapat diperoleh dengan cepat.
Contoh: Misalkan dalam mengerjakan anagram (mengurutkan huruf untuk menyusun kata bahasa Inggris). Anagram berikutnya adalah LSSTNEUIAMYOUI. Untuk menemukan kata tersebut, kita mengidentifikasi dua huruf pertama kata yang mungkin; menolak adanya penggabungan huruf LS, LT, dan LN; dan mengambil LE, LU, dan bahkan SI yang dianggap lebih ideal. Strategi ini dapat membimbing kita untuk menemukan solusi lebih cepat daripada menyelidiki semua 87 juta kombinasi susunan huruf dari 14 huruf dalam SIMULTANEOUSLY.
Melalui algoritma kita selalu dapat menemukan solusi suatu masalah, seperti penyelidikan mendalam, tetapi kebanyakan masalah sehari-hari tidak dapat diselesaikan dengan algoritma. Contoh, tidak ada algoritma yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah anda untuk mencapai kota jika anda tidak mempunyai kendaraan pribadi.
2. Heuristik
Jika pada algoritma solusi selalu dapat ditemukan, maka pada heuristik terkadang solusi tidak dapat diperoleh karena pemecah masalah menjadi tersesat. Heuristik adalah ketentuan umum yang biasanya benar. Dalam pemecahan masalah, heuristik adalah suatu strategi di mana anda mengabaikan beberapa alternatif dan menyelidiki hanya pada alternatif-alternatif yang hampir bisa dipastikan untuk menghasilkan suatu solusi (Holyoak, 1995).
Contoh: Misalkan diberi anagram TSARMTU. Untuk menentukan kata dimaksud dengan cara heuristik, kombinasi huruf awal yang tidak sesuai ditolak. Jika kata-kata yang dimulai dengan ST yang ditolak, maka kata yang dimaksud tidak akan ditemukan, yaitu STRATUM.
Oleh karena heuristik tidak menjamin adanya suatu solusi, maka pemecah masalah perlu mempertimbangkan keunggulan kecepatan suatu algoritma melawan biaya-biaya yang mungkin menghilangkan solusi yang benar. Para psikolog telah melakukan banyak penelitian pada pemecah masalah heuristik daripada algoritma. Banyak orang menggunakan heuristik daripada algoritma.
Ada 3 heuristik yang paling banyak digunakan, yaitu heuristik: hill-climbing, means-ends, dan analogi.
a. Heuristik Hill-ClimbingHeuristik hill-climbing adalah strategi pemecahan masalah yang paling cepat perkembangannya. Heuristik hill-climbing digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan cara menyederhanakan alternatif yang kelihatannya dapat membimbing kita secara langsung ke tujuan yang telah ditetapkan. Heuristik hill-climbing sangat bermanfaat bila kita tidak memperoleh informasi yang cukup tentang berbagai alternatif, dan hanya melihat langkah berikutnya dengan cepat (Dunbar, 1998). Cara seperti ini dapat menjadikan kita tersesat.
Kelemahan terbesar dari heuristik hill-climbing adalah pemecah masalah harus konsisten memilih alternatif yang muncul untuk lebih membimbingnya ke arah tujuan. Dalam melakukan hal ini, mereka dapat saja melakukan kegagalan dalam memilih alternatif meski tidak secara langsung mempunyai keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang. Contoh, pada jalan setapak yang ada pada sisi bukit kelihatannya dapat mengarahkan mereka ke atas untuk mendaki lebih cepat ke suatu akhir yang tak terduga. Sama halnya dengan mahasiswa yang tujuannya ingin memperoleh gaji yang lebih besar, sehingga ia memutuskan untuk mendapatkan pekerjaan secepatnya setelah lulus dari perguruan tinggi, walaupun derajat kelulusan dapat menghasilkan manfaat jangka panjang yang lebih besar.
Kadang-kadang solusi terbaik untuk suatu masalah memerlukan kita untuk sewaktu-waktu bergerak mundur (menjauh dari tujuan). Hal penting untuk diingat dari heuristik hill-climbing adalah cara ini mendorong tujuan jangka pendek, dibanding solusi-solusi yang jangka panjang.
b. Heuristic Means-Ends
Ada dua komponen Heuristik means-ends: (1) membagi masalah ke dalam beberapa sub masalah atau masalah yang lebih kecil, dan (2) berupaya untuk mengurangi perbedaan antara kondisi awal dengan kondisi tujuan untuk setiap sub masalah. Melalui kedua komponen tersebut terlihat bahwa heuristik means-ends sangat tepat karena perlu mengidentifikasi “tujuan - ends" yang diinginkan dan kemudian menyajikan "cara - means" yang digunakan untuk mencapai tujuan. Analisis Means-ends memusatkan perhatian pemecah masalah pada perbedaan antara kondisi awal dan tujuan yang akan dicapai. Heuristik ini adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang paling efektif (Dunbar, 1998; Stilling dkk., 1995).
Dengan menggunakan analisis means-ends, masalah dapat dibedakan dalam dua sub masalah: (1) mengidentifikasi beberapa objek sehingga dapat memperbaiki hem, dan (2) menempatkan objek. Jika analisis means-ends digunakan dalam pemecahan masalah, maka masalah lainnyapun dapat dipecahkan, dari kondisi awal hingga kondisi tujuan, atau mundur dari kondisi tujuan ke kondisi awal. Jadi, sub masalah kedua dapat diselesaikan sebelum memecahkan sub masalah pertama.
Penelitian pada Heuristik Means-EndsPenelitian menunjukkan bahwa orang mengorganisasi masalah ke dalam sub masalah. Contoh, Greeno (1974), melakukan pengujian bagaimana orang memecahkan masalah Hobbits-and Orcs (Demonstrasi 10.5 pada Matlin, 2003: 371). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang beristirahat ketika mendapat masalah dan merencanakan strategi untuk bergerak pada beberapa hal berikutnya. Mereka tidak akan berberak maju dengan langkah yang tetap mengacu pada serangkaian langkah-langkah yang dilakukan oleh setiap individu. Orang memerlukan banyak waktu sebelum melakukan langkah pertama dan sebelum dua gerakan kritis lainnya. Pada setiap hal seperti ini, mereka menangani sub masalah dan perlu mengorganisir serangkaian langkah. Kerja memori secara khusus aktif ketika orang merencanakan satu dari sekian banyak rangkaian gerak (Ward & Allport, 1977).
Strategi means-ends yang sederhana bukan merupakan pendekatan terbaik. Kelemahannya sama dengan heuristik hill-climbing, yaitu ketepatan solusinya dalam memecahkan masalah bergantung pada peningkatan secara sementara perbedaan antara kondisi awal dan kondisi tujuan.
Strategi means-ends yang sederhana bukan merupakan pendekatan terbaik. Kelemahannya sama dengan heuristik hill-climbing, yaitu ketepatan solusinya dalam memecahkan masalah bergantung pada peningkatan secara sementara perbedaan antara kondisi awal dan kondisi tujuan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang yang enggan beralih dari kondisi tujuan – sekalipun solusi yang benar pada akhirnya bergantung sementara pada jalan memutar ini (Dunbar, 1998; Thomas, 1974). Dalam kehidupan sehari-hari, seperti masalah Hobbits dan Orcs, cara yang paling efektif untuk bergerak maju kadang-kadang mesti bergerak mundur untuk sementara. Pikirkan ketika anda sedang bekerja di salah satu sub masalah, dan anda menemukan bahwa solusi sub problem sebelumnya tidak cukup.
Simulasi Komputer
Salah satu contoh heuritstik means-ends adalah simulasi komputer. Simulasi komputer yang direkayasa dengan mempertimbangkan cara-cara yang digunakan manusia dalam menggunakan analisis means-ends (Baron, 1994; Soilings dkk., 1995), paling banyak dibicarakan. Alien Newel dan Herbert Simon mengembangkan teori yang menonjolkan sasaran antara dan mereduksi perbedaan antara kondisi awal dengan kondisi tujuan (Newell & Simon, 1972; Simon 1995).
Peneliti menggunakan simulasi komputer dengan menulis program komputer untuk melaksanakan tugas dengan cara sama seperti yang diinginkan manusia walaupun terkadang salah sejak awal seperti manusia karena tidak sesuai dengan kinerja pemecah masalah. Ketidaksesuaian seperti ini mengisyaratkan pada para peneliti bahwa teori mereka perlu direvisi. Dalam psikologi, tidak "membuktikan" kebenaran teori, tetapi menunjukkan teori tersebut sesuai atau konsisten dengan prilaku. Jika program dapat memprediksi bagaimana cara manusia memecahkan masalah, maka teori dapat diterima untuk sementara waktu. Jika tidak dapat memprediksi solusi masalah, teori ditolak.
Pada tahun 1972, Newell dan Simon mengembangkan simulasi komputer klasik General Problem Solver (GPS) dengan strategi dasarnya adalah analisis means-ends. GPS adalah program pertama yang dibuat untuk mensimulasi berbagai prilaku simbolik manusia (Gardner, 1985). Tujuan GPS tidak hanya memecahkan masalah dengan cara yang paling efisien, tetap juga menggambarkan prosesnya sehingga dapat digunakan manusia ketika menyelesaikan masalah tersebut (Simon, 1996; Stillings dkk., 1995), misalnya untuk mensimulasi kinerja manusia pada berbagai tugas berat.
Namun program GPS terkadang dikesampingkan oleh Newell dan Simon, karena generalisasinya tidak sebesar yang diharapkan (Gardner, 1985). Para psikolog kognitif kontemporer sepakat bahwa banyak orang yang selalu memecahkan masalah yang tidak jelas masalahnya, dimana tujuannya tidak jelas. Dalam kondisi sepeti ini, analisis means-ends tidak dapat diterapkan. Selain itu, pemecah masalah terkadang hanya melakukan penelitian yang bertujuan untuk mencari beberapa solusi secara simultan dan bukan melakukan serangkaian penelitian-penelitian sebagaimana yang diusulkan oleh GPS (Holyoak, 1995; Simon, 1999). Namun demiikian, GPS tetap penting sebab dengan GPS kita akan sangat terbantu untuk dapat memahami bagaimana manusia memecahkan masalah dengan menggunakan analisis means-ends (Greeno & Simon, 1998).
Selain GPS juga dikenal teori ACT-Anderson. John Anderson dan rekan-rekannya (1995) menunjukkan salah satu simulasi komputer yang paling aktif dalam pemecahan masalah. Anderson dan rekan-rekannya mengembangkan program pemecahan masalah aljabar, geometri dan ilmu komputer. Program ini dikembangkan mula-mula untuk mempelajari lebih banyak tentang bagaimana siswa memperoleh keterampilan-keterampilan dalam memecahkan masalah. Baru-baru ini program-program serupa telah dikembangkan ke dalam "tutor kognitif" yang dapat diterapkan dalam pendidikan. Misalnya, tutor dapat membantu para siswa yang bekerja sesuai kemampuan mereka di luar kelas. Pada beberapa kelas sekolah menengah, para siswa memilih alternatif antara aktivitas-aktivitas kelas dan bekerja di laboratorium komputer (Anderson dkk., 1995).
c. Pendekatan AnalogiDisadari atau tidak, setiap hari kita menggunakan analogi untuk memecahkan masalah, seperti ketika menyelesaikan soal-soal matematika kita mengacu pada strategi penyelesaian contoh-contoh sebelumnya. Jadi dalam pendekatan analogi kita memecahkan masalah sebelumnya dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah baru. Dengan demiian analogi mempengaruhi pemikiran manusia. Analogi juga menggambarkan secara menonjol terobosan kreatif dalam seni dan ilmu pengetahuan (Dunbar, 1998; Gilhooly, 1996).
Struktur Pendekatan Analogi
Tantangan penggunaan strategi analogi ialah menentukan masalah sebenarnya. Pada pemahaman masalah, pemecah masalah harus dapat membedakan mana prioritas dan mana yang bukan serta mengenyampingkan yang tidak penting agar dapat diketahui lebih banyak inti masalah sebenarnya. Contoh, pada Demonstrasi 10.5, kita tidak perlu mengetahui tentang Hobbits dan Orcs - kecuali hal-hal yang berkaitan dengan karakteristiknya yang dianggap relevan. Istilah problems-isomorphs (masalah yang mempunyai struktur sama) dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan masalah yang mempunyai struktur dan solusi yang sama, tetapi secara detail berbeda.
Kendala utama dalam menggunakan pendekatan analogi adalah banyak orang yang cenderung lebih menitikberatkan perhatiannya pada kandungan masalah daripada abstraksinya, yang mendasari pengertian (Reeves & Weisberg, 1993; 1994; Vander Stoep & Seifert, 1994). Dengan kata lain, mereka lebih memperhatikan ciri-ciri permukaan yang menyolok, objek-objek khusus dan hal-hal lainnya digunakan dalam pertanyaan. Pemecah masalah tidak berhasil memberikan penekanan pada ciri-ciri yang bersifat struktural. Beberapa hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak berhasil mengetahui adanya analogi antara permasalahan yang mereka telah pecahkan dengan isomorf masalah baru yang mempunyai ciri-ciri struktural yang sama (seperti hasil penelitian Basok dkk., 195, Gilhooly, 19; Holyoak&Koh,1978; Novick, 1998; Reed, 1977, 1993b).
Sebagaimana pada perspektif situated-cognition, orang sering menghadapi kendala dalam memecahkan masalah yang sama dalam keadaan baru karena gagal mentransfer pengetahuan. Mereka juga banyak menghadapi kendala dalam memecahkan masalah yang sama ketika masalah tersebut dibungkus dengan cover story yang sedikit berbeda (Bassok dkk., 1995). Orang-orang yang terbatas keterampilannya dalam memecahkan masalah dan terbatas kemampuan metakognitifnya, mengalami kesulitan dalam menggunakan analogi (Davidson & Stemberg, 1998; Novick, 1998).
Faktor-faktor yang mendorong penggunaan analogi secara tepatPemecah masalah dapat mengatasi pengaruh konteks dan dapat menerapkan metode analogi secara wajar (Anderson, Reder, & Simon, 1997; Gentner & Markman, 1997; Hummel & Holyoak, 1997). Bagaimana cara kita dapat membantu orang lain menggunakan analogi secara lebih efektif, sehingga mereka melihat masalah sumber berdasarkan pada kesamaan struktur bukan kesamaan permukaan? Para peneliti berpendapat bahwa orang lebih mungkin menggunakan analogi secara efektif berdasarkan keadaan berikut:
1. Ketika orang diarahkan secara khusus untuk membandingkan dua masalah yang kelihatannya sejak awal tidak berkaitan sebab mereka mempunyai struktur permukaan berbeda (Cummins, 1992, 1994; Vander Stoep & Seifert, 1994);
2. Ketika orang menunjukkan beberapa masalah yang strukturnya sama sebelum mereka memecahkan masalah tujuan (Davidson & Stenberg, 1998; Vander Stoep & Seifert, 1994);
Ketika orang benar-benar ingin mencoba memecahkan masalah sumber dibanding hanya memperhatian masalah itu (Needham & Begg, 1991); dan
Ketika orang diberi petunjuk bahwa strategi yang digunakan pada masalah spesifik sebelumnya dapat juga digunakan dalam menyelesaikan masalah target (Anderson, Reder, & Simon, 19).
Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan analogi sangat bermanfaat dalam memecahkan masalah, jika digunakan secara tepat. Sayangnya, banyak orang sering mengalami kebingungan disebabkan oleh masalah yang tidak benar-benar sama. Meski demikian, dalam beberapa teknik, analogi dapat mendorong pengolahan aktif masalah sumber dan pemecahan masalah lebih efektif.
Rangkuman: Pendekatan Pemecahan Masalah
Dengan algoritma, seperti penyelidikan mendalam, pemecah masalah pada akhirnya mencapai suatu solusi, tetapi metoda ini sangat memakan waktu. Sebaliknya, cara heuristik lebih cepat; dengan hanya menguji beberapa alternatif, tetapi tidak menjamin adanya solusi.
2. Salah satu strategi pemecahan masalah yang paling sederhana adalah heuristik hill-climbing; pada setiap pilihan, dipilih alternatif yang kelihatannya paling mengarahkan secara langsung kepada tujuan.
3. Heuristik means-ends membagi suatu masalah ke dalam sub masalah dan berusaha untuk mengurangi perbedaan antara keadaan awal dan tujuan untuk masing-masing sub masalah. GPS adalah suatu program komputer yang dirancang untuk menggunakan analisis means-ends.
4. Heuristik pendekatan analogi adalah suatu pendekatan untuk memecahkan masalah baru dengan mengacu pada masalah sebelumnya. Pemecah masalah bisa dikacaukan oleh persamaan permukaan dan mengabaikan persamaan struktural, tetapi beberapa pencegahan mendorong penggunaan analogi yang sesuai.
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMECAHAN MASALAHKedua jenis pemrosesan, bottom-up dan top-down sangat membantu dalam memecahkan masalah. Pemrosesan bottom-up lebih menekankan pada informasi tentang stimulus, seperti tercatat pada sel peka rangsangan kita. Pemrosesan top-down lebih menekankan pada konsep pengharapan, dan memori yang diperoleh dari pengalaman masa lalu. Kedua jenis pemrosesan ini membantu kita untuk memahami beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah, yaitu: keahlian, mental set, functional-fixedness, serta insight dan non-insight problems.
1. Keahlian (expertise)
Seseorang dengan keahliannya dapat menunjukkan penampilan yang luar biasa secara konsisten pada tugas-tugas yang representatif untuk bidang tertentu (Ericsson & Lehmann, 1996). Para ahli psikolog kognitif berpendapat bahwa setidak-tidaknya dibutuhkan waktu 10 tahun untuk mendapatkan keahlian pada suatu bidang khusus (Ericsson & Charness, 1997). Untuk menjadi seorang ahli, diperlukan praktek yang paling efektif untuk melakukan tugas sulit sewajarnya, pelatih yang terampil, penggunaan umpan balik, dan kesempatan mengoreksi kesalahan (Carison, 1997; Ericsson, 1996a, 1998). Namun demikian, para ahli tidak ”lebih cakap” dibandingkan orang lain. Mereka hanya unggul utamanya pada bidang keahlian mereka (Ericsson, 1999).
Mengapa para ahli berbeda dengan pemula dalam memecahkan masalah dalam berbagai tahap? Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan pemanfaatan keunggulan, perbedaan dalam menerapkan pendekatan pemecahan masalah, dan perbedaan kemampuan metakognisi sebagaimana dijelaskan sebagai berikut.
a. Latar Belakang Pengetahuan (knowledge base)Pemula dan para ahli berbeda secara substansial dalam dasar pengetahuan mereka, atau skema (Ericsson, 1999; Reed, 1993b). Skema yang sesuai dibutuhkan untuk dapat memahami suatu topik secara tepat.
b. Memory
Para ahli berbeda dengan pemula berkenaan dengan memori mereka untuk informasi yang berkaitan dengan bidang keahlian mereka (Chi dkk., 1982; Glaser & Chi, 1988). Dari bab 3 diketahui bahwa para ahli dapat menggunakan isyarat-isyarat yang terbaca dari memori kerja jangka pendek secara "reguler" agar mereka dapat memperoleh akses yang lebih luas, kestabilan informasi di dalam memori jangka panjang (Ericsson & Kintsch, 1995). Keterampilan memori para ahli nampaknya sangat khusus, dimana memori para ahli secara substansial lebih baik daripada pemula jika sesuai dengan skema tertentu.
Secara umum gap antara antara ahli dengan pemula sangat lebar dalam menafsirkan pola, apakah bidang keahliannya adalah catur, jembatan, elektronik, memprogram komputer, atau pemain skating (Ericsson & Hastie, 1994). Karena memori untuk informasi yang relevan merupakan bagian yang sangat penting dalam pemecahan masalah, para ahli jelas lebih unggul daripada pemula.
c. RepresentasiPara pemula dan ahli juga berbeda dalam menyajikan masalah. Para pemula lebih suka menggunakan penyajian masalah apa adanya dengan melukiskan objek dunia nyata. Hal ini berarti para pemula lebih memfokuskan diri pada ciri-ciri permukaan. Sebaliknya para ahli dapat membuat representasi fisik tentang ide abstrak; sehingga para ahli lebih fokus pada ciri-ciri struktural.
Para ahli dan pemula juga berbeda dalam bentuk penggunaan representasi masalah. Secara khusus, para ahli lebih senang menggunakan bayangan mental yang sesuai atau diagram yang cocok untuk memudahkan pemecahan masalah (Clement, 1991; Larkin & Simon, 1987).
d. Pendekatan Pemecahan Masalah
Para ahli lebih kompeten dalam memecahkan masalah dibandingkan dengan pemula, seperti dalam menggunakan heuristik means-ends. Para ahli juga lebih kompeten dari pemula dalam memikirkan suatu rencana besar penyelesaian masalah, sebelum mulai bekerja (Priest & Lindsay, 1992).
Para ahli dan pemula berbeda cara menggunakan pendekatan analogi. Ketika menyelesaikan masalah, para ahli lebih mungkin melakukannya ketimbang pemula untuk mengapresiasi kesamaan struktur di antara masalah-masalah. Sebaliknya, para pemula lebih mungkin terganggu oleh kesamaan permukaan, dan mereka sering memilih suatu masalah sumber yang tidak tepat (Gilhooly, 1996; Hardiman dkk., 1989).
e. Mengelaborasi Kondisi Awal (Elaborating on Initial States)Para ahli jauh melebihi pemula dalam memikirkan kondisi awal suatu masalah, sebab para ahli mempunyai pengalaman dan menguasai permasalahan ketimbang para pemula yang tidak atau belum berpengalaman dalam memikirkan dan mengambil keputusan tentang kondisi awal permasalahan.
Hal ini disebabkan karena para ahli berpengalaman dan mempunyai dasar pengetahuan yang lebih ekstensif dan luas. Para pakar dibidang medis atau kedokteran yang tengah mendiagnosa penyakit penderita akan dapat memperoleh kembali berbagai informasi dari memorinya. Bahkan setiap adanya ketidak konsistenan dalam informasi tersebut dapat mengarahkan penelitian atau pemeriksaan mereka untuk mendapatkan hal-hal baru (Paid dkk., 19, 1999).
f. Kecepatan dan Keakuratan
Para ahli lebih cepat dari pemula dan mereka menyelesaikan masalah sangat akurat (Bedard & Chi, 1992; Carison, 1997; Custers dkk., 1996). Operasi-operasi mereka menjadi lebih atomatis dan situasi stimulus juga menjadi pemicu yang cepat suatu respons (Glaser & Chi, 1988). Para ahli kelihatan menjadi lebih efisien dan koheren merencanakan pemecahan masalah (Gobet & Simon, 1996c; Hershey dkk., 1990).
Pada beberapa tugas, para ahli dapat memecahkan masalah lebih cepat sebab mereka menggunakan pemrosesan paralel, daripada pemrosesan serial. Pada Bab 2 dijelaskan, pemrosesan paralel menangani dua atau lebih materi pada waktu yang sama. Sedang, pemrosesan serial menangani hanya suatu item pada waktu yang sama.
g. Keterampilan MetacognitifPara ahli lebih baik dibanding para pemula dalam mengawasi pemecahan masalah mereka. Contoh, para ahli nampak lebih baik untuk menilai kesulitan suatu masalah. Mereka juga lebih peka ketika membuat suatu kesalahan, dan mereka lebih terampil mengalokasikan waktu secara tepat ketika menyelesaikan masalah (Carlson, 1997; Glaser & Chi, 1998). Singkatnya, para ahli adalah orang-orang yang mempunyai kecakapan tertentu didalam memecahkan masalah dan juga lebih terampil mengawasi kemajuan mereka selama bekerja pada suatu masalah.
2. Mental Set
Pada Demonstrasi 10.6, jika pemecah masalah mempunyai mental set, maka mereka dapat menerapkan solusi yang sama sebagaimana yang telah mereka terapkan dalam masalah sebelumnya, meskipun masalah tersebut dapat ditangani dengan cara lain yang lebih mudah. Mental set adalah suatu kebiasaan mental atau kekakuan pikiran yang menghambat pemecahan masalah yang efektif (Langer, 1997; Smith, 1995a).
Para ahli menggunakan pemrosesan top-down yang sesuai, sebab para ahli dapat mengerahkan pengetahuan sebelumnya untuk menyelesaikan masalah secara cepat dan akurat. Sebaliknya, baik mental set maupun functional-fixedness menyajikan pemrosesan top-down secara overaktif. Pada kedua kasus ini, pemecah masalah betul-betul dipandu oleh pengalaman mereka sebelumnya bahwa mereka gagal untuk melihat beberapa solusi yang efektif terhadap masalah mereka.
Mental set dapat menghalangi kualitas solusi masalah, seperti juga kecepatan pemecahan masalah. Mental set adalah suatu contoh dari kecenderungan yang lebih umum yang Ellen Langer (1997) menyebutnya sebagai mindlessness (pemikiran yang kaku).
Mindlessness erat kaitannya dengan pemikiran yang diambil secara tiba-tiba sehingga tidak jarang mengalami kebuntuan dalam kategori lama, tanpa memperhatikan informasi baru yang muncul di lingkungan. Dalam mindlessness, masalah dilihat hanya pada satu titik pandang.
Mindfullness (pemikiran yang mantap), mengandung kreasi dari kategori-kategori baru, kesediaan menerima informasi baru, dan kesediaan untuk melihat dunia dari satu titik pandang berbeda yang baru. Mindfullness digunakan untuk mendekati bermacam masalah sehari-hari.
3. Functional FixednessFunctional fixedness muncul ketika pemrosesan top-down berlebihan; lebih banyak memperhatikan konsep-konsep sebelumnya; harapan, dan memori. Mental set erat kaitannya dengan strategi pemecahan masalah, sedangkan functional fixedness mengacu pada jalan pemikiran kita tentang objek fisik. Functional fixedness berarti fungsi atau kegunaan kita menandai objek membuat kita lebih cenderung mempertahankan keadaan yang ada tetap dan stabil. Akibatnya, kita gagal untuk melihat ciri-ciri suatu stimulus yang mungkin berguna dalam pemecahan masalah. Untuk mengalahkan functional fixedness, kita perlu berpikir fleksibel tentang cara baru bahwa object dapat digunakan.
Dalam banyak situasi sehari-hari, kita mempunyai akses terhadap berbagai perlengkapan dan objek, sehingga functional fixedness tidak dapat membuat rintangan yang signifikan. Functional fixedness dan mental set adalah dua hal yang menyatakan bahwa kesalahan dalam proses kognitif dapat sering diterapkan ke suatu strategi yang pada dasarnya sangat rasional.
Functional fixedness muncul ketika menerapkan strategi dengan ketat. Walau bagaimanapun setiap objek dapat didesain untuk memperlancar tugas-tugas. Namun demikian, hal-hal yang bersifat fungsional lainnya tetap muncul apabila kita mengapplikasikan strategi terlalu kaku. Jika strategi yang dianggap lebih bijak berpedoman pada pengetahuan dan wawasan yang dimiliki dalam memecahkan masalah terdahulu, maka anda dapat juga memecahkan dilema yang timbul. Jika pemikiran lama anda temyata masih relevan, maka tidak salah untuk tetap mempertahankannya, meskipun dianggap terlalu kaku sehingga tidak menguasai solusi yang lebih efisien.
4. Masalah Insight dan non-insight
Pada masalah insight, masalah kelihatan pada awalnya tidak mungkin dapat diselesaikan, tetapi pendekatan alternatif terkadang masuk dalam pikiran; sehingga anda secara cepat merealisasikannya untuk memperoleh solusi yang benar (Fiore & Schooler, 1998). Jadi ada semacam lompatan aktivitas untuk menyelesaikan suatu masalah yang sebelumnya kelihatan tidak mempunyai solusi. Sedang, masalah non-insight, masalah diselesaikan secara bertahap dengan menggunakan kemampuan penalaran dan menghimpun prosedur yang rutin (J.E. Davidson, 1995: Schooler dkk., 1995). Kedua masalah Insight dan non-insight dapat dibandingkan dalam dua dimensi, yaitu metakognisi selama pemecahan masalah dan aturan bahasa dalam pemecahan masalah.
a. Sifat Alami Insight (The Nature of Insight)Konsep insight sangat penting dalam psikologi Gestalt yang menekankan kecenderungan organisasi. Mereka menyatakan bahwa bagian-bagian suatu masalah pada awalnya tidak berkaitan, tetapi suatu pengertian sekilas mendadak dapat membuat bagian-bagian seketika saling bersesuaian ke dalam suatu solusi.
Psikolog behaviorist menolak konsep insight sebab gagasan untuk reorganisasi teori yang mendadak tidak kompatibel dengan penekanan mereka terhadap perilaku yang nampak.
Psikolog kognitif mengemukakan bahwa orang yang bekerja pada masalah insight biasanya berpegang pada asumsi yang tidak sesuai dengan ketika mereka memulai pemecahan masalah. Untuk menyelesaikan masalah insight secara tepat, kita perlu untuk mengambil waktu istirahat sehingga informasi yang menyesatkan tidak mendominasi pemikiran (Schooler dkk., 1995; Smith, 1955a). Sebaliknya, masalah non-insight secara khusus bermanfaat dalam pemrosesan top-down.
Perbedaan masalah non-insight dan insight menyatakan bahwa anda perlu mulai memecahkan masalah dengan merenungkan pengalaman anda sebelumnya dengan masalah serupa. Dari waktu ke waktu, anda juga perlu mempertimbangkan, apakah masalah itu memerlukan insight. Masalah insight memaksa anda untuk mencari jawaban ”di luar kotak” dengan menunda asumsi anda yang biasa dan mencari solusi baru.
b. Metakognisi selama Pemecahan Masalah
Ketika sedang bekerja pada suatu masalah, bagaimana kita yakin bahwa kita berada pada jalur yang benar? Janet Metcalfe (1986) mengemukakan bahwa pola metakognitif kita berbeda untuk masalah insight dan non-insight. Secara khusus, keyakinan kita terbangun secara bertahap untuk masalah non-insight. Sebaliknya, ketika kita bekerja pada masalah insight, kita mengalami suatu lompatan yang mendadak secara rahasia ketika kita dekat dengan suatu solusi yang benar. Sebenarnya, peningkatan mendadak dalam keyakinan dapat digunakan untuk membedakan masalah insight dari non-insight (Metcaife & Wiebc, 1987).
c. Peranan Bahasa dalam Pemecahan MasalahMasalah Insight dan non-insight berbeda berkenaan dengan peran bahasa selama pemecahan masalah. Secara khusus, pembicaraan tentang masalah itu terkadang membantu memecahkan suatu masalah non-insight; sebaliknya, mungkin menghalangi solusi dari suatu masalah insight.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian para ahli dapat disimpulkan bahwa siswa yang dilatih masalah non-insight dengan mendiskusikan strategi, kesalahan, dan harapan terhadap efektivitas langkah proses pemecahan masalah ternyata lebih efektif dalam memecahkan masalah berikutnya, dibandingkan dengan para siswa kontrol yang tidak menyatakan secara lisan strateginya. Walaupun menurut Schooler & Melcher (1994) dan Schooler dkk. (1993), hal ini tidak selalu terjadi. Sebaliknya, pada masalah insight, hal ini terkadang tidak membantu untuk menentukan solusi suatu masalah. Penjelasan yang dihasilkan oleh diri sendiri walaupun dapat menuntun perbaikan kinerja untuk pemecah masalah dengan kemampuan tinggi, tetapi tidak memperbaiki pemecah masalah yang berkemampuan rendah.
Jadi jelas bahwa bersuara keras ketika mengerjakan tugas-tugas berat akan mempengaruhi pikiran yang sangat diperlukan agar tugas-tugas berat tersebut dapat dikerjakan. Jika pemecah masalah diinstruksikan untuk menjelaskan strategi mereka, maka verbalisasi tersebut tidak jarang dapat mengakibatkan kelengahan. Karena itu tetap diperlukan solusi yang efektif didalam menangani masalah berat.
Mengapa bahasa berpengaruh ketika memecahkan insight problem? Jawaban logisnya adalah lebih menekankan pada spesialisasi hemisferik. Fiore dan Schooler (1998) menyatakan bahwa kita tidak harus lebih memberi penekanan pada perbedaan hemisferik. Hemisferik kiri secara khusus terampil pada logika penalaran dan pemrosesan bahasa baku. Jika kita bekerja pada masalah non-insight, maka kinerja tersebut tidak akan dirusak melalui penggambaran strategi kita dan masalah dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Sebaliknya, hemisferik kanan terampil pada penafsiran kata-kata dan konsep yang tidak biasa menetap; hemisferik ini secara khusus dapat digunakan secara aktif ketika menyelesaikan masalah insight (Fiore & Schooler, 1998). Jika pemikiran kita diutarakan secara gamblang, hemisfer kiri kita menekankan pada strategi pemecahan masalah yang biasa dijadikan acuan. Sebagai konsekuensinya, hemisfer kanan kita tidak memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan solusi-solusi yang tidak biasa. Sebagai hasilnya, kita tidak dapat melakukan pemrosesan top-down tradisional untuk mempertimbangkan cara lain untuk memikirkan perlunya menyelesaikan masalah insight.
Rangkuman: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemecahan Masalah
Para ahli berbeda dengan pemula berkenaan dengan latar belakang pengetahuan mereka, memori untuk materi yang berkaitan dengan tugas, metode representasi masalah, pendekatan pemecahan masalah, keluasan elaborasi keadaan awal, kecepatan dan ketepatan, dan keterampilan metakognitif.
Pemecahan masalah juga dipengaruhi oleh mental set (sehingga kita mencoba menerapkan strategi solusi yang sama, meskipun strategi lainnya dianggap lebih efektif), dan functional fixedness (yang mana kita menentukan penggunaan secara tetap objek-objek tertentu, walaupun objek-objek tersebut dapat digunakan untuk tugas lainnya). Dalam penanganan masalah, pemrosesan top-down dianggap berlebihan, meski strategi yang diterapkan pada dasarnya rasional.
Masalah insight dapat diselesaikan bila kiat-kiat penanganannya dapat diketahui; sedangkan masalah non-insight diselesaikan secara bertahap, menggunakan keterampilan penalaran. Pemrosesan top-down dianggap overactive dalam masalah insight, tetapi membantu secara tepat dalam masalah non-insight.
Penelitian metakognisi menunjukkan bahwa rasa percaya diri meningkat secara bertahap untuk masalah non-insight; rasa percaya diri anda pada masalah insight pada awalnya rendah, tetapi tiba-tiba meningkat ketika anda menyelesaikan masalah.
Untuk masalah non-insight, kinerja dapat ditingkatkan atau tidak terpengaruh jika strateginya disuarakan; sebaliknya, kinerja pada masalah insight menjadi kacau jika strateginya disuarakan; hemispherik secara khusus dapat menjelaskan perbedaan itu.
E. KREATIVITASKreativitas erat kaitannya dengan pemecahan masalah. Selain itu, kreativitas adalah sama halnya dengan ruang lingkup pemecahan masalah, yang memerlukan perekayasaan dari sejak awal hingga tiba saatnya untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Namun demikian, kreativitas tidak jarang menimbulkan kontroversi, sebab tidak membakukan definisi kreativitas, dan pendekatan-pendekatan teoritis dalam kreativitas begitu beragam.
Ada pendapat lain yang menyatakan, sebenamya karakteristik kreativitas tidak menimbulkan kontroversi: Dari sejak abad dua puluh satu, kreativitas telah menjadi topik yang sangat populer, baik didalam maupun diluar psikologi. Terdapat banyak buku yang membahas tentang kreativitas yang telah diterbitkan sejak pertengahan seribu sembilan ratus sembilan puluhan (seperti buku yang ditulis oleh Ban-on, 1995; Csikszennmhali, l; Runco & Pritzker, 1999; Stemberg, 1999b; Stemberg & Lubart, 1995; Warddkk., 1995, 1997). Namun demikian sangat disayangkan, sejumlah penelitian tentang kreativitas telah jauh tertinggal dibelakang penelitian-penditian lainya tentang topik-topik lam daiam psikologi kognitif (Mayer, 1999).
1. Definisi Kreativitas
Kebanyakan teoritisi sepakat bahwa sesuatu yang baru atau yang original adalah merupakan komponen yang sangat penting didalam menumbuhkan kreativitas (Mayer, 1999). Selain itu banyak teoritisi, berpendapat bahwa kreativitas memerlukan temuan-temuan tentang solusi terutama sekali yang ada kaitannya dengan yang baru dan berguna (seperti dijelaskan olehBoden, 1999; Lubart, 1999; Mayer, 1999).
Meskipun banyak teoritisi yang sepakat tentang definisi kreativitas, namun pandangan -pandangan mereka tidak jarang dapat menimbulkan bias atau perbedaan-perbedaan tentang karakteristik-karakteristik lainnya. Sebagai contoh, banyak psikolog yang berpendapat bahwa kreativitas didasarkan pada pemikiran atau pola pikir masyarakat umum, dan yang ada kaitannya dengan pemecahan permasalahan sehari-hari (seperti dielaskan oleh Dunbar, 1997; Weisberg, 1999). Sebaliknya para psikolog lainnya berpendapat bahwa orang awam tidak mungkin dapat lebih kreatif; sebaliknya orang-orang tertentu yang mempunyai keterampilan tinggi dapat lebih kreatif dengan hasil-hasil yang luar biasa sesuai dengan keahlian khusus mereka, seperti misalnya dibidang musik, sastra, atau ihnu pengetahuan (seperti yang dijelaskan oleh Feldmandkk., 1994; Simonton, 1997, 1999).
2. Pendekatan yang Perlu Diperhatikan dalam Memberdayakan KreativitasBanyak teori yang telah mengembangkan atau merekayasa cara pendekatan-cara pendekatan lainnya agar dapat lebih mudah mengkaji lebih dalam tentang kreativits. Sebagai contohnya adalah pada dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pertama adalah yang berkaitan dengn penjelasan klasik Guilford tentang produksi yang beragam, dan sedangkan sudut pandang kedua, adalah perspektif kontemporer, yang lebih menitik beratkan pada komponen-komponen yang dianggap penting dalam kreativitas (sebagaimana dijelaskan oleh Stemberg & Lubart, 1995).
a. Produk Divergen
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas adalah produk divergen. Penelitian mengenai produk divergen dilakukan oleh J.P. Guilford (Plucker & Renzulli, 1999). Guilford mengusulkan agar kreativitas dinilai dilihat dari keragaman produknya, atau keragaman tanggapan atau komentar terhadap setiap produk yang dilakukan pengujiannya. Demikian juga para peneliti kontemporer cenderung lebih menekankan bahwa kreativitas memerlukan pola pikir yang beragam – dan bukan jawaban tungal (Barsalou & Prinz, 1997; Mayer, 1999).
b. Teori Investasi dalam kreativitas Faktor lain yang dapat mempengaruhi kreativitas adalah teori investasi. Para ahli keuangan berpendapat bahwa cara bijak berinvestesi adalah dengan membeli semurah mungkin namun dapat menjualya dengan harga yang tinggi. Samahalnya dengan pendapat Robert Sternberg dan kawan kawanya yang menyatakan bahwa orang-orang kreativitas terutama yang banyak bergelut dibidang dunia pemikiran dan terobosan-terobosan, dan juga dapat membeli dengan harga murah dan kemudian menjualnya dengan harga yang tinggi (Stemberg & Lubart, 1995, 19; Stemberg & O'Hara, 1999).
Teori investasi dalam kreativitas dapat juga mengisyaratan pada kita bahwa ilmu pengetahuan - adalah merupakan karakteristik kedua dalam kreativitas - dan ibarat pisau bermata dua. Seperti dijelaskan pada point-point atau faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah, maka yang diperlukan lainnya adalah pengetahuan yang memadai dan adanya kemampuan untuk dapat memahami dimensi-dimensi permasalahan.
3. Motivasi dan Kreativitas
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kreativitas adalah motivasi. Motivasi terbagi dua, yaitu:
1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang datangnya dari dalam diri individu
2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang datangnaya dari luar diri individu
Ahli Ilmu Fisika Arthur Schawlow pemenang Hadiah Nobel pro di dalam ilmu fisika dalam 1981. Ia berpendapat Para ilmuwan yang paling berhasil sering kali bukan kebanyakan berbakat. Tetapi mereka adalah orang-orang yang yang terdorong oleh kecurigaan; keingin-tahuan. Mereka harus mengetahui apa yang jawaban adalah" (Schawlow, 1982, p.42).
Lebih lanjut Riset dari Teresa Amabile dan coauthors mengkonfirmasikan bahwa satu komponen yang penting dari kreativitas adalah motivasi intrinsik, yaitu motivasi untuk bekerja di suatu tugas karena anda menemukan yang menarik, mengejutkan, atau secara pribadi menantang (Amabile, 1997; Collins &Amabile, 1999). Riset Amabile menetapkan bahwa sifat dari motivasi mempunyai satu pengaruh yang penting di kreativitas. Motivasi intrinsik dapat meningkatkan kreativitas.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak para mahasiswa yang cenderung tidak dapat membuat proyek-proyek yang tidak kreatif apabila mereka bekerja untuk proyek-proyek karena alasan-alasan eksternal. Oleh sebab itu, kreativitas dapat terkendala oleh adanya motivasi ekstrinsik (adanya penghargaan, hadiah dan pujian)
4. Inkubasi dan KreativitasBanyak seniman, ilmuwan, dan orang-orang yang kreatif lainnya yang telah membuktikan bahwa inkubasi sangat membantu mereka untuk memecahkan permasalahan secara lebih kreatif. Inkubasi didefinisikan sebagai situasi yang pada mulanya anda tidak berhasil memecahkan permasalahan, meski pada akhimya anda sangat memungkinkan dapat memecahkan permasalahan setelah anda beristirahat beberapa saat, dan bukan melanjutkan pekeriaan menangani permasalahan-permasalahan tersebut tanpa jeda (Smith, 195b). Sebagai contoh, Frank Onher sebagai inventor yang sangat kreatif didalam merekayasa alat-alat kesehatan. Dalam satu wawancara, ia berpendapat bahwa inkubasi adalah merupakan fase yang sangat penting dalam memecahkan permasalahan.
Rangkuman: Kreativitas
Terdapat banyak definisi yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan kreativitas; salah satu definisi yang paling populer adalah yang menyatkaan bahwa kreativitas pun memerlukan solusi
Terdapat dua cara pendekatan yang dapat diterapkan didalam meningkatkan kreativitas seperti dijelaskan dalam cara pendekatan Guilfordyang lebih menekankan pada keragaman produkdan teori mvestesi multifaktor Steroberg, sehingga dapat disimpulkan bahwa kreativitas pun memerlukan intehgensi, pengetauan, motivasi dan lingkungan yang kondusif dan pola pikir yang tepat serta personalitas atau kepribadian.
Menurut pendapat Teresa Amabile, motivasi intrinsik dapat meningkatkan kreativitas; motivasi ekstrinsik dapat meningkatkan kreativitas (apabila kita dapat memanfaatkan berbagai informasi), sebaliknya motivasi ekstrinsik dapat menurunkan kreativitas apabila motivasi tersebut dapat mengendalikan anda dan membatesi pilihan-pilihan.
Beberapa teoritisi berpendapat bahwa inkubasi pun dapat mendorong pemecahan masalah secara lebih kreatif, sebaliknya meski pun telah dilakukan penelitian dengan baik namun tidak jarang dapat menimbulkan kegagalan didalam menyusun dan menerapkan konsep tersebut.